Label

Kamis, 10 Maret 2016

Cara orang-orang memperlakukan kenangan.

Aku pernah melihat orang merapikan kenangan-kenangan yang berserak, dimasukan kedalam kotak penyesalan dan dihanyutkan pada sungai-sungai waktu yang entah muaranya dimana.

Aku juga pernah melihat orang membiarkan kenangan berserakan di ruang-ruang kalbu. Jika kau tanya mengapa tak dirapikan, kau hanya akan mendapatkan jawaban klise bahwa sudah terlampau kacau dan menyentuh kenangan menjadi sangat malas. Apalagi merapikan nya.

Ada juga, orang yang meramu kenangannya. Membakar tanda-tanda hitam dan menelan bekas bekas kebahagiaannya saja. Agar yang membekas hanya yang putih. Ku rasa, itu tidak adil. Entahlah.

Tapi kali ini aku memperhatikan caramu memperlakukan kenangan. Ku lihat kau merapikan kenangan dengan hati-hati dan kau urutkan berdasarkan rasa-rasa mu. Kau letakan kenangan yang kau rapihkan di atas meja kerjamu. Terkadang kau buka lagi kenangan itu, kau baca dan kau pelajari betul tiap-tiap tanda hitam yang menodai kenangan mu. Aku bingung setengah mati. Mengapa kau sehati-hati itu. Bukankah semua hal yang terlewati harusnya sudah selesai?
Apa membaca kenangan tidak melukai masa depan?

Aku mulai meniru caramu memperlakukan kenangan, tapi aku tak benar-benar mampu. Begitu banyak yang kau ciptakan. Ruang kalbuku penuh dan sempit.
Aku tidak tau cara memperlakukan kenangan.
Kau tak pernah selesai mengajariku caranya.
Dan aku harus bagaimana?
Aku tak percaya cara orang-orang.
Lalu harus apa aku?

- nhnuy -

Jumat, 04 Maret 2016

Tentang si pecandu rindu dan bedebah

Dan akhirnya kita sampai pada ujung cerita kisah si pecandu rindu yang menunggu kekasihnya datang membawa peti emas janji dan sebongkah harapan untuk hidup bersama.
Di akhir cerita, si pecandu rindu menyadari bahwa dia tak pernah dihargai, dan satu-satunya yang dihargai kekasihnya hanyalah ego.
Si penikmat ego menjelma menjadi bedebah yang memuakan, membawa segenggam kebencian nan pekat untuk pecandu rindu.
Hati adalah tempat terbaik menyimpan cinta pun benci, untungnya si pecandu rindu paham sekali bahwa si bedebah penikmat ego itu harus sudah berhenti ditunggu, dan bukan lagi harus menjadi yang terkasih. Sebab ketulusan terlalu indah untuk dilemparkan pada sumur-sumur kemunafikan orang-orang yang tak mengerti tentang kesetiaan.
Tuhan Maha Baik, tidak pernah Dia tidak memberi penawar atas luka-luka hambanya.
Si pecandu rindu kini mulai menata kepingan-kepingan jiwa yang berserak di semesta kecil dirinya. Mencari arti lain dari menunggu. Kelak suatu hari si penikmat ego yang bedebah itu mengerti. Karena barangkali, Tuhan akan memberi kesempatan padanya mencicipi luka orang lain yang tersakiti.
Kini si pecandu rindu tak lagi dipecundangi waktu, tak lagi menunggu si bedebah. Ketika terjaga kala malam, tak lagi dihantui kenangan. Semua sudah berubah. Seperti biasa saja.
Memang, semesta tak pernah beri kesempatan orang baik terlarut dalam permainan orang-orang munafik. Segera saja tanda-tanda semesta untuk mengisyaratkan bahwa berhenti adalah pilihan, selalu terjadi.
Si pecandu rindu harus membenci si bedebah dengan sopan dan hati-hati, sebab kebencian akan membawanya pada lorong-lorong gelap kenelangsaan. Dan mati di dalamnya adalah petaka.

Si pecandu rindu kini menjelma menjadi si peramu rasa. Mencari hati lain yang lebih bersih, Mengubur bencinya pada si bedebah kemudian  Menggantung asanya pada bulan dan bintang-bintang. Kelak kan kau temukan ia di langit.

- nhnuy -

Selasa, 01 Maret 2016

Lelah diri

Aku tak bisa lagi membaca pola-pola hidupku yang disulam dengan benang-benang takdir warna-warni. Aku tak benar-benar yakin lagi dengan jiwa dan rasa ku. Ada lelah yang tak terejawantah. Ada lebam yang membiru pada lapisan paling bawah hatiku.

Rupanya aku sudah sangat kelelahan mengejar sesuatu yang entah. Aku jadi semakin bodoh membaca ruang dan waktu. Terjebak dalam pikiran aneh yang biasa dinamai khayalan. Aku tak paham lagi dengan hidupku.

Aku merasa terus-terusan dikhianati diri sendiri. Ingin hilang dan menjadi bukan aku tapi mustahil.
Aku meraba ruang-ruang kalbu yang acak-acakan ini, mencoba menemukan tanda yang hilang.
Tanda syukur yang biasanya lekat mengisi ruang kalbu, kini entah dimana.
Aku berada pada batas-batas bias antara membenci diri atau memaafkan diri.

Aku tak paham lagi dengan diriku sendiri. Rasanya seperti di lukai habis-habisan oleh diri sendiri. Yang paling ku kenal di dunia ini adalah diri sendiri dan yang paling ku takuti selepas takut Tuhan adalah takut pada diriku sendiri. Sungguh aku tak paham lagi.

Lekas sembuh!

Kamis, 25 Februari 2016

Untuk yang selalu bertanya





kau sering kali bertanya padaku, "mengapa kau mencintaiku?". keluh lidahku tak mampu menjawab.
sebab jika ku katakan padamu bahwa aku tidak tau mengapa aku mencintaimu, pasti kau akan mengira aku tak serius menanam perasaan. 
sungguh aku tak tau pasti mengapa aku mencintaimu.
Aku mencintaimu seperti aku mencintai Hujan, Seperti aku mencintai Cahaya, Seperti Aku mencintai malam. 
Aku tak mengerti sebab yang pasti mengapa aku mencintai, yang jelas saat berada dalam hujan aku merasa bahagia. saat melihat cahaya indah berpendar, aku bahagia. dan ketika malam datang menawarkan kesunyian, aku bahagia.
Bohong, jika ku katakan aku selalu bahagia dengan Hujan, Cahaya, atau Malam. Hujan kadang membuatku kecewa karena terlalu banyak membawa air, merendam rumahku yang kecil. Cahaya juga kadang membuatku sedih saat sedang asik-asiknya ku nikmati tiba-tiba cahaya meredup, cahaya Senja contohnya. Kriminal sekali senja itu, membuatku patah hati berkali-kali padahal aku sedang sangat menikmatinya, lalu ia meredup dan hilang. Untung saja berganti malam, hal lain yang aku cintai. Aku juga tak selalu bahagia dengan malam, kadang malam membuatku sangat nelangsa. memutar semua memori pahit dalam sunyi yang tak bertuan.
semua hal yang aku cintai tak selamanya membawaku pada kebahagiaan pun kesedihan. 

sama seperti kamu. aku tak tau mengapa aku mencintaimu. yang jelas aku bahagia saat berada dekatmu. Tapi kamu tidak selalu membuatku bahagia. sama seperti Hujan, kau pernah mengecewakan. Sama seperti Cahaya senja, kau pernah membuatku patah hati berkali-kali. Dan sama seperti malam, kau pernah membuatku nelangsa setengah mati. 

Dari semua hal-hal itu, apakah kau masih bertanya mengapa aku mencintaimu?
kau adalah hal yang aku tunggu meski sekeras apapun perih dan luka yang harus ku kecap. 
kau adalah alasan aku berjalan diatas perih menunggu kebahagiaan
dan berjalan sabar diatas kebahagiaan agar tak memulai kenelangsaan.
kau membuatku berjuang.

Dan alasan aku mencintaimu adalah karena aku harus mencintaimu. Sudahlah, jangan tanya aku. Tanya Tuhan saja sana. Mengapa titipkan perasaan ini padaku untukmu. 

Aku mencintaimu sebab banyak sebab yang tak bisa disebabkan oleh aku sendiri.
Ku pikir cinta adalah kata kerja bukan kata sifat. jadi tak perlu ada alasan, bukan?


~untuk siapapun yang tak bisa merumuskan perasaan~

Selasa, 23 Februari 2016

Malam



"aku menatap bintang kemudian mengutuk pagi" 

adalah aku yang terjaga kala langit hitam berparas cahaya benda-benda langit.
ku cintai malam sebab selalu memberi ruang sunyi bagi pecandu rindu. 
aku mulai mencintai sunyi. 
aku  mulai mencumbui rindu. 
aku mulai menikmati kesedihan.
malam adalah kuil bagi jiwa-jiwa yang lelah
mengambil jalan kesedihan untuk lebih dekat menuju Tuhan
Aku mencintai malam, sehingga tak ingin aku lewatkan
berada diantara waktu bermimpi dan merencanakan kenyataan esok pagi
hanya malam yang mengerti
betapa banyak kata yang tak sempat aku utarakan
hanya malam yang mengerti
betapa aku menjadi diri sendiri
sebab malam membuatku sangat sendirian
dengan seluruh Aku
Aku mencumbui malam dengan doa-doa 
menuju Tuhan dalam sunyi dan kehampaan
membawa Aku menjadi Aku.
Malam, aku mencintaimu.
Jangan berlalu.