Label

Rabu, 27 September 2017

Sebelum sampai dilingkar lengan.

Hujan larut dalam cangkir seorang muda yang merayakan kesepian.
Satu-satunya harapan adalah kehilangan.
Nafasmu, sama dinginnya dengan pinggiran kota yang diguyur gerimis malam ini.
Darimu, semua telah habis.
Waktu yang dipukul mundur, beberapa ribu menit sebelum akhirnya --ku kira-- tubuhmu dalam jangkauan lenganku.
Bung.

-nhnuy
Bekasi, 27 September 2017

Selasa, 26 September 2017

Sepasang -bukan- kekasih yang -tidak- mencari

Kasih,
Hanya ada perempuan patah hati dan laki-laki kebingungan, diantara kita.
Waktu dan segala hal yang pernah aku percayakan jadi obat,
Mereka menyerah.
Hatiku menolak sembuh.
Dan kau menjadi belati.
Belati yang jatuh dalam pelukan
perempuan yang tersesat
Dan tak bisa pulang.

Aku masih di tempat yang sama.
Kenapa?

Jumat, 18 Agustus 2017

Terserah

Banyak sunyi yang ditawarkan semesta.
Pilihanku jatuh pada kesunyian matamu.
Sebab disana ada ketenangan paling liar yang selalu menawarkan diam.
Disana, tempat bersemayam segala rindu yang tidak pernah sampai.
Aku mencintai mu.
Tapi hati mu terlalu sibuk mencintai hal-hal lain.
Aku mencintai mu.
Tapi kata-kata ku tak cukup mampu menembus inti jantungmu.
Aku mencintai mu.
Tapi laku ku tidak pernah cukup mengesankanmu.
Aku mencintai mu.
Tapi hati mu mati
Tapi jiwamu kosong
Tapi pandanganmu tidak pernah untuk aku.
Tidak apa-apa.
Aku mencintai mu.

-nhnuy

Selasa, 08 Agustus 2017

Malam gerhana

Sejam sebelum gerhana bulan parsial itu, bung.
Yang dihidupmu hanya sekedar, yang dihidupku mengeras membatu.
Meski jelas hanya samar, aku ada kemudian menjadi tiada.
Aku bicara pada hampa, apakah kau sengaja?
Kau masih menjadi ketidakmungkinan yang semakin aku semogakan.
"Jangan menyesal!"kataku.
Sebab jika kau barangkali lupa.
Ku ingatkan, aku masih yang pertama.

-nhnuy

Sabtu, 24 Juni 2017

Ketidak pahaman

Langit tidak tidur, bintang-bintang senang tertawa lebih keras dari dengkur bulan separuh.
Aku akan menceritakan padamu tentang kisah seorang yang memimpikan menjadi langit tapi selalu ingin mendengkur seperti bulan.
Mungkin itu akan membuatmu membuka jendela kamarmu yang rapuh.
Meneriaki bintang-bintang untuk sejenak berduka sebab mimpi tidak lagi riang. Dan tertawa sangat tidak sopan.
Apakah kau paham?
Semoga saja tidak.
Karena ini bukan pemahaman.
Kita sudah terlalu banyak memahami nama-nama.
Istirahatlah.
Kau bukan langit yang tidak tidur.

-nhnuy

Sabtu, 03 Juni 2017

Jika kau maka aku.

Barangkali, aku dan kau sepasang petualang yang hilang atau pulang. Sedang sama-sama mencari atau mencair.
Sedang sama-sama tersesat atau terikat.

Di suatu sore, dimana anak-anak kecil lebih riang dari suara mesin.
Kau dan aku akan duduk berdampingan, menertawakan diri sendiri.
Kemudian, kau dan aku lupa bagaimana cara kembali.
Lupa bagaimana cara membenci, lupa bagaimana cara mencaci, dan hingga lupa cara menjadi cara itu sendiri.
Semua hal datang menjadi diksi yang harus dilupakan atau diluapkan.

Kau dan aku takan berubah diksi menjadi kita.
Kita takan berubah diksi menjadi satu.
Dan satu takan berubah diksi menjadi kasih.

Aku terus berandai menjadi petualang yang mati ditempat kerja.
Sedang kau, terus bermimpi menjadi pekerja yang budiman.
Aku memeluk senja sebagai awal kemenangan.
Kau menuduh fajar sebagai kutukan.

Waktu dan semua hal yang mengatur kau dan aku, juga cerita fiksi yang meracuni atau mencanduimu adalah serentetan sebal yang aku sesalkan.

Di waktu nanti --ketika kau dan aku selesai menertawakan diri sendiri-- akan ku siapkan sela jemariku untuk menyambut rindumu yang berantakan, juga isi kepalamu yang masih risau dengan diksi yang aku rumuskan.

Jadilah kau, maka aku akan sangat aku.

Sabtu, 06 Mei 2017

Kaki-kaki yang tersesat

Ada yang tadinya berusaha pergi karena merasa tidak menemukan apa-apa. Jalanan menjadi sangat lengang untuk kaki-kaki para petualang, seorang penjelajah yang tahu kemana ia harus pulang, para pengelana yang memimpikan rumah, seorang yang tersia dan ingin mati di jalanan, juga aku dan semua jejak yang ingin aku tinggalkan.
Pengelana hanya tau kemana arah yang ia mau. Tujuan utamanya adalah tersesat.
Sama hal nya dengan aku. Hanya tau apa yang aku mau. Dan akhirnya tersesat. Sampai kau datang, memberi segelas air dan peta. Kemudian aku curigai dan aku pergi.
Pengelana dungu yang tersisa, ingin mati di jalanan.
Dengan sebuah keyakinan ....
Pulang...

-nhnuy

Senin, 01 Mei 2017

catatan sebelum bunuh diri

aku ingin pergi ke negeri yang jauh, dimana orang-orang asing tidak akan mengenalku seperti di rumah. Aku ingin tersesat di sebuah pulau nun jauh, di tengah samudra. Mungkin dengan begitu aku bisa mati karena bosan. semua hal dicipta sebagai sebab dan akibat, Namun aku tidak tau sampai kapan teori itu berlaku padaku. Tuhan, Yang Maha Segalanya mungkin tau kenapa aku jadi seperti ini. Bingung, hilang diri dan ingin mati. Andai neraka tidak pernah ada, dan kematian hanya menjadi portal menuju keabadian, maka sudah sejak lama aku mati.
Banyak yang aku pahami, sedikit yang aku kerjakan. Aku rindu diriku yang kemarin, memotivasi orang lain dengan bijak dan logis. Ah, coba lihat aku sekarang! meyakinkan diri untuk tidak bunuh diri saja sulit. Apakah kau nanti akan menjumpaiku sebagai aku yang berbeda ketika misalnya aku reinkarnasi?
Baiklah, semoga mati bisa jadi jalan keluar. Pasti sakit, ya tapi kan sebentar :) tidak selama saat seumur hidupmu itu kan?
Ayo Mati !

Sabtu, 18 Maret 2017

Menunggu lupa


Kau berhak bahagia.
Jatuh cintalah pada siapa saja.
aku akan mencoba tabah sembari menyusun lagi kepingan kepingan yang aku pecahkan sendiri.
Ya.
Begitu.
Mencintai pada akhirnya akan bahagia.
Bahagia dalam luka atau luka dalam bahagia.
Kau berhak hidup meski kedua lenganku menginginkan tubuhmu mati-matian.
Kau berhak pergi meski kedua kakimu aku impikan pulang.
Ini hati, kasih.
Tempat kau menyembunyikan duri yang aku tanam sendiri.
Aku masih setia dengan jarak dan kau masih menghitung waktu.
Menunggu hatiku lupa cara mencintaimu.

-nhnuy

Rabu, 08 Maret 2017

Menjadi serat-serat

aku ingin menjadi penutup kepala yang menutupi malu mu. Rambutmu tak cukup bagus untuk dilihat banyak orang, katamu. Bagiku, semua yang ada padamu adalah hal tanpa cela.

Aku ingin menjadi serat-serat pakaianmu. Dekat dan erat pada pori-porimu.
Melekat pada keringatmu yang belum pernah tersentuh parfum.
Menutupi tubuhmu yang pernah disekap aku.
kuyup dan dingin bersamamu ketika air menjatuhkan diri dari langit yang tak pernah jadi biru sebelum benar-benar melepasnya membasahi bumi.
Aku menyediakan hangat. Melekat sebagai serat, menjagamu dari angin yang jalang.Tak berjarak, kau dekap aku erat-erat hingga lekat.

Aku ingin menjadi segala yang kau butuh.


- Nhnuy 

Tegal 9 Maret 2017


Kamis, 02 Maret 2017

Menjadi sebab yang tidak disebabkan.

Setiap yang jatuh cinta padamu akan menjadi jahat.
Mereka menipu
Bertopeng
Mereka menghalalkan air mata orang lain.

Setiap yang rindu padamu akan mati sia-sia.
Dipecundangi egonya sendiri

Kau candu. Dan mereka belum punya penawarnya.

Semua orang yang jatuh cinta padamu akan menjadi jahat.
Karena Aku.

Rabu, 01 Maret 2017

Mati sekali lagi

Aku ingin menjadi bayangan dan menabrak diri sendiri
Berharap jatuh tepat diatas cermin yang tidak pernah kau gunakan sebagai matamu
Menyerahkan diri retak bersama waktu dan apapun yang menjadi pengabaianmu. Dengan begitu kau menang dan aku mati sekali lagi

Gigil yang kemarin mampir adalah musim abadi yang tidak pernah kenal salam perpisahan
Ia masuk membawa rindu yang jalang, dan menghukum remaja bedebah dalam diriku

Aku tak mampu menjangkau diri sendiri, sedang kau lewat lebih cepat dari hari libur
Butuh lebih banyak luka-luka atau pribadi yang bunuh diri hanya untuk menggapaimu.

-nhnuy

Sabtu, 17 Desember 2016

Melihat kita.

           
Gambar terkait


  Ada seorang petualang dalam dirimu yang sedang terperangkap dan tersesat. Ada seorang penjelajah yang kau sulap dan kau paksa menjadi juru masak untuk melayani laparmu. mereka mati sia-sia tepat di batas antara ketakutanmu dan kemungkinan.
kita hidup pada ruang-ruang penuh kabel, energi yang menjadi populer tiap harinya dan eksistensi sebagai hal wajib. kenyataan menjadi digital dan digital adalah kenyataan. Digital dan kau adalah saudara kembar yang dilahirkan tidak identik. 
           Kau tau bahwa aku tau kau sedang gusar. Aku tau, namun belum paham. Pemahamanku mentok dan tersandung lakumu yang dingin sedingin digital.
semua orang ingin dikenal tapi tak suka bertemu. Hidup jadi semakin cepat secepat kau mengunggah cerita hidupmu yang sebenarnya tidak menarik. Aku adalah penonton setiamu. Cukup setia untuk sesuatu yang tidak menarik. 
          Caramu sering curang, kau mengambil sepotong gambar dari hidupmu yang biasa saja kemudian mantra dan kata merubah orang-orang jadi hilang kesadarannya. Contohnya seperti pada kesadaranku. Kesadaran entah sembunyi dimana. Aku sudah tidak bisa melihat kesadaran orang-orang kecuali pada tulisan para Penyair yang masih peduli isi kepala orang lain.
          Mari, ku ajak kau ke meja kerjaku! Kau harus lihat daftar nama orang-orang yang berpura-pura di hari ini dan hari-hari sebelumnya. Sekalian juga, aku mau menitipkan potongan-potongan pikiran tentang mereka yang aku jumpai di sore tadi. 
          Aku melihat ada yang punya kegelisahan tentang waktu, namun yang aku pikirkan adalah jam pasir dan usiamu. Semua orang akan gelisah pada waktu, kecuali aku saat kau ada.
          Ada yang gelisah dengan duka dan kehilangan. Manusia tidak diprogram untuk tertawa kan? jadi wajar saja. Semua orang punya rahasia di balik air mata, yang menjadi beda adalah caramu menyembunyikannya.
          Aku juga melihat seorang anak kebingungan memilih sesuatu. ada dua eskrim di tangan kanan dan kirinya. Dia bingung mau memakan es yang mana. Kesukaannya dia belum tau. Sedangkan, anak lain tidak peduli. Aku bisikan "makan dua duanya". Kau harus lihat, anak itu masih kebingungan hingga es nya cair dan dia tidak memakan apa-apa.
          Di catatan ku tadi sore, ku jumpai diksi aneh. Aku curiga itu bukan tulisanku. Baunya seperti kenangan yang dicelukan ke tinta amis hasil dari kepanikan cumi-cumi. Tapi aku masih tidak begitu peduli selama dicatatanku masih ada kau dan sedikit potongan-potongan kita. 




Jumat, 15 Juli 2016

sedikit tafsir tentang naskah Perempuan Obrak Abrik

Perempuan Obrak-Abrik
Rian Harahap

Tafsir oleh Nurul Hikmah
            Naskah perempuan obrak-abrik sedikit banyak menggambarkan tentang kegelisahan perempuan. Kaum perempuan yang merasa terbatasi oleh norma serta pandangan umum yang menempatkan perempuan pada posisi nomor dua setelah kaum laki-laki. Banyak kalangan yang mendiskreditkan perempuan. Naskah karya Rian Harahap ini mencoba mengangkat sebuah realita sosial dari sudut pandang perempuan yang merasa dunia menganggap bahwa perempuan adalah kaum yang lemah, tidak memiliki kebebasan yang hakiki, menjadi “alat” kesenangan bagi kaum laki-laki, Perempuan ditindas secara fisik maupun psikis. Sehingga, umpan baliknya adalah kebencian yang mengendap dan dilampiaskan dengan pemberontakan terhadap kaum laki-laki untuk membuktikan kepada dunia bahwa perempuan bisa sama derajatnya dengan laki-laki. Kebencian yang mengendap juga menjadikan kaum perempuan melupakan fungsi laki-laki, yang harusnya perempuan dan laki-laki harus sama-sama saling menjaga dan bekerjasama untuk menjalani kehidupan di dunia.
            Jika ditarik pada realitas sekarang ini, Naskah perempuan obrak-abrik sangat relefan dengan wajah perempuan sekarang ini. Jika kita lihat dari literasi sejarah  Setelah era R.A Kartini yang memproklamirkan emansipasi wanita, perempuan menjadi hampir sederajat dengan laki-laki dari waktu ke waktu. Pada akhirnya Perempuan pada masa sekarang ini sangat mendewakan kata “emansipasi wanita”. Dahulu Perempuan kerap dianggap sebagai kaum yang lemah secara fisik maupun mental, sehingga sering tidak mendapatkan kepercayaan untuk memimpin. Namun, pada era globalisasi ini, peran perempuan sangat mendominasi di setiap bidang. Kita sudah tidak asing lagi melihat perempuan yang memimpin seperti contoh yang umum, Ibu Megawati Soekarno Putri yang menjadi Presiden ke-5 Republik Indonesia.
Hal-hal tersebut merupakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki dan dunia, namun tanpa disadari, sebenarnya perempuan terjebak pada emansipasi yang mereka buat sendiri. Ketika perempuan menjadi sangat mendominasi, maka peran laki-laki menjadi tergeser dan kehilangan fungsinya. Contoh sederhananya seperti ibu rumah tangga yang bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga sementara laki-laki mengurusi rumah dan anak-anak. Perempuan masih gagap mengartikan kata emansipasi wanita, sehingga banyak hal-hal yang malah menjadi tanda tanya besar untuk diri mereka sendiri.
Ini yang coba disampaikan Rian Harahap dalam naskah Perempuan Obrak-Abrik. Perempuan ada pada posisi yang serba salah jika tanpa pemikiran dan pertimbangan yang bijak.  


Nb:

Tulisan ini saya buat sebagai tafsir pikiran pertama sebelum pementasan Monolog “Perempuan Ngobrak Abrik” yang disutradarai oleh Dediesputra Siregar. Tulisan ini merupakan salah satu bentuk studi Teater yang dilakukan bersama Komunitas Matahari Hujan.



Senin, 27 Juni 2016

Alam Jiwa




ranting-ranting rapuh pada akar yang kuat
menahan gugur daun yang kecoklatan mengering sengat mentari
pagi itu, tak kalah indah dengan senja
surya jingga telur mata sapi
dihamparan calon padi yang hijau

savana dihatiku mengering
kau yang terakhir menyiraminya, pergi
terbalut kerontang
sumur-sumur pikiran tanpa dasar

menahan merah pada lebam
hatiku terperanjat sinar matamu
merasuk bayang menusuk sukma
menghanyutkan jiwa pada ketiadaan

rabun menatap mega-mega
temaram wajahmu datang mengusik
hampir lagi aku jatuh pada kekosongan
savana menggurun

pohonan jiwa kerontang
telaga mengering
pijakan retak
dan kau terhempas angin lalu.

Sabtu, 07 Mei 2016

Cahaya Jingga Lampu Jalan






Hening jalan malam kala itu, Sedikit membalut luka -rasa yang beranjak pergi dari hatiku- sebab hening yang dalam terenyuh pada rongga dadaku yang sedang teduh, bernafas sebebas itu. Ku lihat cahaya yang hangat sekali, menerangi setiap perjalananku. Lampu jalan yang jingga berpendar.

Ya . . . lampu jalan. Apakah aku tak romantis jika bercerita tentang lampu jalan? haruskah melulu ku pasrahkan diksi dan aksaraku pada keindahan senja atau bintang malam?

Bagiku mungkin sama saja. Aku tak benar-benar memilah rasa. Anggap saja aku bodoh. Tapi benar, aku suka pada cahaya jingga lampu jalan. Sungguh !! Terlebih jika gerimis datang. Ah... kerjasama yang indah antara rintik dan cahaya jingga itu. Kala malam menjemput lelah pada yang lain. Aku belum ingin terlelap. Aku masih ingin di jalan bersama terang yang temaram itu, Berbagi oksigen dengan pepohonan, berbagi sunyi dengan keheningan malam.

Kau tau? lebih dari sekedar cahaya jingga lampu jalan, ada sesuatu yang syahdu terumuskan dalam rasa.
Cahaya jingga seperti memberi ruh pada apa saja yang dijatuhinya. Semua hal yang dilewati jingga menjadi begitu hidup dan punya cerita. Seakan tak henti membuatku menatap dan merasa. Aku tak sendirian meski ditinggal bulan yang cemburu. Bermandikan cahaya jingga, aku hangat dalam ingatan tentang masa kecil yang lalulalang membias dalam kepala. Juga ingatan tentangmu, tentang masa laluku yang lucu sesakit apapun itu. Aku tak merasa sendirian, sebab hangat menembus kedalam kalbu. Dalam cahaya jingga, ada banyak rahasia yang tersimpan. Cahaya yang tak begitu terang, menyembunyikan beberapa hal untuk disimpan. Cahaya jingga punya rahasianya sendiri, itu sebab ia tak begitu terang. Redup atau Temaram saja.

Bukan hanya sebatas itu, banyak lagi yang tak mampu aku surat kedalam aksara. Rasanya begitu penuh dalam dada. Jangan lupa berterimakasih pada malam yang membuat cahaya jingga menjadi seindah itu.

Tuhan adil sekali. DiciptakanNya Langit sore untuk membuat Senja yang Jingga. DiciptakanNya Manusia untuk membuat Lampu Jalan yang Jingga (juga). Indah.


bukan tentang apa-apa


perkara yang ini 
aku tak lagi paham
tentang diriku sendiri
mati dalam diam

diburu waktu
ditikam detik
dilukai menit 
dibunuh rasa

terpintal sudah tiap-tiap lara
dari aku yang bisu menerka
menebak semesta dengan rumusan
yang tak pernah jadi tembusan

perih 
bekas
lirih
keras
hati
mati
diri

aku tak pernah dikecewakan 
sebab aku yang mengecewakan
diri orang yang lain
atau diri ku yang lain

sepisau luka
seiris pedih
aku tak kuasa
selesai sudah lirih

sadarkan aku
siapapun kau
yang tak harus membisu
sebab ku tak mau kau begitu

ini bukan tentang siapa-siapa
juga bukan tentang apa-apa
hanya perkara aku 
yang tak bisa berlaku

hidup dalam kotak tenang
tapi ingin selalu menang
mana bisa ku di kenang
jika hanya ini yang ku karang

sempit rasa pikir
entah darimana pusing ini mampir
kelak aku kan hadir
dalam dunia baru yang semoga tak getir

sebelum itu sudahi kata
lebih guna aku berdamai pada lara
pada diri sendiri yang hina
supaya tak lagi membenci semesta.

Kamis, 31 Maret 2016

Tersesat Bersamamu

Selepas ini, aku memasuki musim baru semesta kecil dalam diriku. Musim Pelangi jika boleh kusebut.
Pada musim ini biasanya aku sukar membedakan bias anatara kebahagiaan dan tipu daya cahaya yang sering kusebut-sebut berada dalam labirin jiwaku yang begitu rumit.
Pada musim ini, aku sempat tersesat beberapa kali, sampai menemukan sebuah jalan yang warna-warni.
Mungkin, ini bukan jalan yang benar dan mungkin aku masih tersesat.
Tapi tak apa, aku menemukan sesuatu di jalan ini.
Aku menemukanmu.
Mungkin kau memang datang mencariku atau hanya kebetulan ada di jalan yang sama ini.
Atau barangkali kamu datang hanya untuk memperbaiki atap-atap hatiku yang bocor lantaran luka lama yang dilempari oleh kenangan-kenangan busuk.
Apapun itu, aku senang menemukanmu berada di jalan yang sama.
Perkara kau tau arah jalan atau tidak pun tak masalah bagiku.
Setidaknya kita bisa memulai perjalanan dengan tersesat bersama, bukan?
Walaupun nantinya kau akan pergi meninggalkan aku di jalan, setidaknya kita pernah mencoba melakukan perjalanan menuju tujuan.
Percayalah, telah banyak aral ku lumat habis untuk menemukan jalan ini.
Telah banyak lika-liku dinding tipuan dan tikungan-tikungan menyebalkan hanya untuk sampai pada jalan ini dan akirnya bertemu kamu. 
Dan kau harus tau begitu banyak hal yang terlewatkan hanya untuk dapat tersesat disni. 
Jadi,
Mari Tersesat Bersamaku.

-nhnuy-

Kamis, 10 Maret 2016

Cara orang-orang memperlakukan kenangan.

Aku pernah melihat orang merapikan kenangan-kenangan yang berserak, dimasukan kedalam kotak penyesalan dan dihanyutkan pada sungai-sungai waktu yang entah muaranya dimana.

Aku juga pernah melihat orang membiarkan kenangan berserakan di ruang-ruang kalbu. Jika kau tanya mengapa tak dirapikan, kau hanya akan mendapatkan jawaban klise bahwa sudah terlampau kacau dan menyentuh kenangan menjadi sangat malas. Apalagi merapikan nya.

Ada juga, orang yang meramu kenangannya. Membakar tanda-tanda hitam dan menelan bekas bekas kebahagiaannya saja. Agar yang membekas hanya yang putih. Ku rasa, itu tidak adil. Entahlah.

Tapi kali ini aku memperhatikan caramu memperlakukan kenangan. Ku lihat kau merapikan kenangan dengan hati-hati dan kau urutkan berdasarkan rasa-rasa mu. Kau letakan kenangan yang kau rapihkan di atas meja kerjamu. Terkadang kau buka lagi kenangan itu, kau baca dan kau pelajari betul tiap-tiap tanda hitam yang menodai kenangan mu. Aku bingung setengah mati. Mengapa kau sehati-hati itu. Bukankah semua hal yang terlewati harusnya sudah selesai?
Apa membaca kenangan tidak melukai masa depan?

Aku mulai meniru caramu memperlakukan kenangan, tapi aku tak benar-benar mampu. Begitu banyak yang kau ciptakan. Ruang kalbuku penuh dan sempit.
Aku tidak tau cara memperlakukan kenangan.
Kau tak pernah selesai mengajariku caranya.
Dan aku harus bagaimana?
Aku tak percaya cara orang-orang.
Lalu harus apa aku?

- nhnuy -

Jumat, 04 Maret 2016

Tentang si pecandu rindu dan bedebah

Dan akhirnya kita sampai pada ujung cerita kisah si pecandu rindu yang menunggu kekasihnya datang membawa peti emas janji dan sebongkah harapan untuk hidup bersama.
Di akhir cerita, si pecandu rindu menyadari bahwa dia tak pernah dihargai, dan satu-satunya yang dihargai kekasihnya hanyalah ego.
Si penikmat ego menjelma menjadi bedebah yang memuakan, membawa segenggam kebencian nan pekat untuk pecandu rindu.
Hati adalah tempat terbaik menyimpan cinta pun benci, untungnya si pecandu rindu paham sekali bahwa si bedebah penikmat ego itu harus sudah berhenti ditunggu, dan bukan lagi harus menjadi yang terkasih. Sebab ketulusan terlalu indah untuk dilemparkan pada sumur-sumur kemunafikan orang-orang yang tak mengerti tentang kesetiaan.
Tuhan Maha Baik, tidak pernah Dia tidak memberi penawar atas luka-luka hambanya.
Si pecandu rindu kini mulai menata kepingan-kepingan jiwa yang berserak di semesta kecil dirinya. Mencari arti lain dari menunggu. Kelak suatu hari si penikmat ego yang bedebah itu mengerti. Karena barangkali, Tuhan akan memberi kesempatan padanya mencicipi luka orang lain yang tersakiti.
Kini si pecandu rindu tak lagi dipecundangi waktu, tak lagi menunggu si bedebah. Ketika terjaga kala malam, tak lagi dihantui kenangan. Semua sudah berubah. Seperti biasa saja.
Memang, semesta tak pernah beri kesempatan orang baik terlarut dalam permainan orang-orang munafik. Segera saja tanda-tanda semesta untuk mengisyaratkan bahwa berhenti adalah pilihan, selalu terjadi.
Si pecandu rindu harus membenci si bedebah dengan sopan dan hati-hati, sebab kebencian akan membawanya pada lorong-lorong gelap kenelangsaan. Dan mati di dalamnya adalah petaka.

Si pecandu rindu kini menjelma menjadi si peramu rasa. Mencari hati lain yang lebih bersih, Mengubur bencinya pada si bedebah kemudian  Menggantung asanya pada bulan dan bintang-bintang. Kelak kan kau temukan ia di langit.

- nhnuy -